Sabda Alam, Hip-hip Hura, Juwita, Anak Sekolah, atau Lestari adalah sedikit dari sekian banyak lagu-lagu yang mendudukan Chrisye sebagai legenda Indonesia. Apa yang membedakan seorang Chrisye dari penyanyi-penyanyi Indonesia lainnya ? “ Papa adalah seorang yang selalu ada untuk kita, dalam kondisi apapun, jika saja tuhan memberikan waktu satu hari saja agar papa bisa berada diantara kami, agar kami bisa mendengarkan cerita-cerita papa. He’s everything….tak ada yang bisa menggantikan papa di sisi kami,” itulah testimony singkat yang diiucapkan dari bibir Rizkia Nurannissa, putri pertama dari pasangan Chrismansyah Rahardi dan GF. Damayanti Yanti Noor.
Annissa, mungkin tak terlalu berlebihan. Apa yang diungkapkannya pada menjelang akhir Konser Classic Chrisye di Jakarta, pertengahan Oktober 2009, bisa jadi benar-benar tulus datang dari lubuk hatinya yang terdalam.
Chrisye, orang yang dipanggilnya “ papa” adalah sosok yang memiliki nama besar dalam blantikan musik Indonesia. “ Dia adalah seorang legenda,” kata Youngky Suryo Prayogo.
Memiliki nama lengkap Chrismansyah Rahardi, anak kedua dari ketiga bersaudara ini dilahirkan di Jakarta, 16 September 1949. Mulai merintis karier musiknya di tahun 1968 dengan bergabung sebagai basist dalam formasi Sabda Nada. Tahun 1968 - 1969 ia tergabung dalam Gipsy Band bersama Zulham Nasution, Keenan Nasution, Gauri Nasution, Onan dan Tami.
Bersama kelompok Gipsy inilah Chrisye yang kala itu jadi vokalis sekaligus bassis sempat tercatat sebagai band penghibur di sebuah restoran Indonesia di New York. Sayangnya Group ini tak bertahan lama. Sekitar tahun 1977, Chrisye kemudian memulai karir solonya.
Bersama kelompok Gipsy inilah Chrisye yang kala itu jadi vokalis sekaligus bassis sempat tercatat sebagai band penghibur di sebuah restoran Indonesia di New York. Sayangnya Group ini tak bertahan lama. Sekitar tahun 1977, Chrisye kemudian memulai karir solonya.
Bintangnya mulai bersinar justru ketika ia menapaki dunia musik sebagai penyanyi solo. Seperti halnya tembang pertama yang melambungkan namanya, Lilin-Lilin Kecil (ciptaan James F. Sundah), karir Chrisye terus bersinar semakin terang. Pada tahun yang sama ia memenangkan ajang "Lomba Karya Cipta Lagu Remaja Prambors" (LCLR).
“ Lestari” adalah lagu ciptaannya yang memikat hati Yanti Noor, seorang wanita yang menemani Chrisye hingga akhir hayatnya, pada awal-awal pertemuan mereka. “Dari dulu hingga sekarang penggemar Chrisye tetap datang dari semua kalangan, mulai ABG hinga orang tua,” kata Armand Maulana, yang membawakan lagu “Sendiri” dan Kisah Insani” dalam konser tersebut.
Sepanjang kurun era 1980-an hingga memasuki tahun 2000, nama Chrisye memang tak pernah tak pernah tenggelam. Berbagai macam kolaborasi dengan musisi- musisi terkenal membuat lagunya seolah tak lekang dimakan zaman. Mungkin Saya dan Anda akan setuju, sampai kapanpun, dengan aransemen apapun, mungkin lagu-lagu dalam album “ Badai Pasti Berlalu” hasil kolaborasinya dengan Eros Djarot akan selalu menyentuh hati ketika didengarkan.
(Wiko R)
Categories:
Musik