Komunitas Klasik Indonesia



“Jadul” yang Selalu Eksis
Sabtu, 24 April 2010

Berawal dari undangan di Facebook, akhirnya Komunitas Klasik Indonesia pun terbentuk. Sederet acara pun digelar, mulai dari wisata kuliner hingga bincangbincang menghadirkan seorang pakar.

Classic never dies. Mungkin istilah itulah yang ada dalam benak anggota Komunitas Klasik Indonesia (KKI). Segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia klasik atau dikenal juga dengan istilah “jadul” (jaman dulu) seperti menjadi pemersatu di antara anggotanya.


Sebuah komunitas yang belum lama berdiri ini tercetus dari ide Citra Aisyah. Perempuan berkacamata yang sangat menyukai berbagai hal berhubungan dengan vintage itu membuat komunitas di sebuah jejaring sosial.Kala itu, Citra mengajak sang adik, Kharizma Ahmada, biasa disapa Chaka, yang juga menyukai halhal berbau klasik.Ternyata sambutan yang diterima luar biasa, jauh melebihi bayangan mereka sebelumya. Hanya dalam hitungan minggu, jumlah anggota yang tergabung dalam grup tersebut mencapai ratusan.


“Semula niatnya hanya untuk bertemu dengan mereka yang memiliki hobi sama, dan mengumpulkan para pengagum serta pencinta hal-hal klasik di Facebok.Ternyata responsnya sangat besar,” ungkap Citra. Semakin hari, jumlah anggota dalam grup itu semakin banyak.


Tidak hanya mengajukan diri sebagai anggota, mereka pun memberikan feedback yang cukup serius terhadap keberadaan Komunitas Klasik Indonesia.Inilah yang kemudian membuat kakak beradik tersebut, Citra dan Chaka, berniat serius mengembangkan KKI dan memutuskan untuk “kopi darat” dengan personelnya.


Satu Misi Akhirnya, Juni 2009, di sebuah kapal KLM Pearl yang tengah berlabuh di Sunda Kelapa, Jakarta, bersama dengan enam anggota KKI di Facebook, disepakati untuk mendirikan sebuah komunitas yang mengusung ide-ide dan visimisi yang berkaitan dengan aktivitas serta produk tempo doeloe.Enam anggota inilah yang kemudian menjadi Dewan Pengurus Komunitas Klasik Indonesia. Dalam pertemuan awal itu juga diputuskan perlunya sebuah rencana kumpul-kumpul perdana para anggota KKI yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia itu.


Pembahasan konsep awal dari komunitas baru itu pun dirasakan perlu mempertemukan sebagian dari para anggotanya. Undangan pembentukan divisi-divisi baru pun segera dilayangkan dalam grup KKI di Facebook. Acara kumpul-kumpul perdana sekaligus peresmian berdirinya Komunitas Klasik Indonesia sukses diselenggarakan pada 28 Juni 2009 di dua tempat, yakni di Taman Fatahillah dan KLM Pearl, Pelabuhan Sunda Kelapa, dengan agenda perkenalan dan kumpulkumpul. Sebagian besar anggota yang belum saling mengenal akhirnya melebur dan menjadi semakin akrab. “Di sinilah para anggota yang datang saling berkenalan dan menyatukan visi misi dari Komunitas Klasik Indonesia.


Mulai dari saling bertukar pendapat, sharing, bercerita pengalaman, hingga akhirnya menciptakan keakraban satu sama lain,” urai Citra. Setelah dari Taman Fatahillah, para peserta yang terdiri dari beragam usia itu menuju tempat tujuan terakhir, yaitu KLM Pearl.


Agar semakin identik dengan istilah “klasik”, 24 anggota itu kemudian dibawa dengan menggunakan ojek onthel yang disediakan gratis oleh Komunitas Onthel Betawi Antik, dari museum wayang sampai pelabuhan. Sesampainya di KLM Pearl, para peserta diberikan penjelasan mengenai sejarah kapal Phinisi dan KLM Pearl. Anak buah kapal (ABK) pun turut menceritakan kisah-kisah menarik yang terjadi pada kapal itu hingga kemudian menjadi restoran kapal terapung di Karibia.


Puncaknya, peresmian Komunitas Klasik Indonesia diakhiri dengan penandatanganan di atas kaus KKI oleh seluruh peserta yang datang pada hari itu. Akhirnya, ke-24 peserta menjadi deklarator dan tercatat dalam sejarah berdirinya Komunitas Klasik Indonesia. Sarana Edukasi Kepengurusan Komunitas Klasik Indonesia kemudian resmi terbentuk pada 12 Juli 2009, mengambil tempat di Museum Nasional Jakarta.


Pengurus dari berbagai latar belakang inilah yang mengemban tugas dalam penyelenggaraan acara-acara KKI berikutnya.“Ada beberapa divisi dalam KKI yang semuanya saling berkaitan dan tentunya mengusung tema klasik. Di antaranya divisi kuliner, film, otomotif, musik, bangunan tua, dan fashion.Agar nuansa klasiknya benar-benar terasa, semua temanya harus di bawah 1980-an atau sekitar 1970-an,” urai Citra, yang sehari-hari gemar berpakaian vintage itu. Dia juga mengungkapkan keberadaan KKI untuk memberikan sebuah wadah bagi para pencinta dan pengagum hal-hal berbau klasik, yang pernah dan sempat eksis di Indonesia. “Lebih tepatnya menjadi sarana untuk edukasi dan belajar dengan cara yang fun, santai namun bermanfaat,” jelas Citra. Tercatat, ada beberapa agenda yang diadakan KKI. Salah satunya wisata kuliner zaman Belanda dan kunjungan ke Museum Prasasti.


Acara ini kemudian menuai antusiasme dari anggota KKI. Sebut saja Niken Ariani. Perempuan yang sehari-harinya berprofesi sebagai seorang arsitektur itu mengaku tertarik berpartisipasi karena ide yang ditawarkan dari komunitas tersebut cukup menarik.“Seperti wisata ke museum-museum yang notabene jarang masuk ke dalam jadwal kunjungan anak muda Jakarta. Ya, trying something different saja.Selain itu, kita juga jadi mengenal warisan dan sejarah kita tanpa harus merasa digurui atau membosankan karena acaranya dikemas menjadi lebih fun,” papar Niken.


“Kini sesuatu yang oldish (tua) jadi back to trend lagi. Selain mendapatkan pengetahuan baru, teman baru juga dapat,” urai Niken yang memiliki ketertarikan akan arsitektur kuno itu. Tidak sekadar datang berkunjung ke museum-museum atau ke tempat klasik lainnya, komunitas ini dalam setiap acaranya mengundang para ahli atau pembicara khusus yang memang bergerak di bidang tersebut.


Bahkan para peserta selalu diberikan sebuah games yang isinya seputar event-event tersebut. Salah satunya event yang diadakan di sebuah rumah makan Jawa klasik. Tidak hanya acara makan-makan, mereka pun turut mengundang pakar budaya klasik, Adi Putranto, untuk memberikan pengetahuan tentang budaya Jawa, seperti mocopatan dan bermain siter. “Setiap games disesuaikan dengan acara dan tema yang diusung.


Seperti saat belajar budaya Jawa, ada games menari Jawa dan lain sebagainya. Hadiah yang diberikan pun sesuai temanya.Sebut saja mainan zaman dulu, teko antik, hingga congklak dari kayu. Selain untuk mengakrabkan para peserta, juga untuk lebih mengedukasi kita semua,” pungkas Citra. (mer/L-3)




Categories: , , ,